Burnout Sampai Rasanya Ingin Menghilang: Kapan Kondisi Ini Perlu Diwaspadai?

HA
Hany Wibowo
0

Istilah burnout belakangan kerap terdengar di kalangan para generasi Z (gen Z) di dunia kerja [1]. Menurut WHO (2019), burnout disebabkan oleh stres berkepanjangan di tempat kerja yang tidak bisa diatasi secara tepat [2]. Seringkali kita menyalahartikan burnout dengan kelelahan biasa. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Kelelahan biasa bisa dihilangkan dengan istirahat yang cukup dan juga bila beban pekerjaan berkurang, sedangkan burnout tidak bisa. Rasa lelah tetap ada meskipun telah beristirahat cukup [3].


Tanda-tanda Burnout


Burnout sendiri memiliki beberapa tanda. Tanda yang paling terlihat jelas adalah munculnya gejala kelelahan akut atau fatigue. Sedangkan, tanda-tanda yang paling sering diabaikan adalah adanya perasaan sinis terhadap pekerjaan, dan menurunnya performa kerja [6]. Anda yang tadinya menyukai pekerjaan tertentu mulai merasa bosan atau tidak minat lagi. Hasil kerja juga jadi menurun kualitasnya.


Mengapa burnout dapat membuat seseorang merasa ingin “menghilang” atau menarik diri?


Seseorang yang mengalami burnout seringkali berusaha melindungi dirinya sendiri dari tuntutan pekerjaan yang berlebihan dengan cara menarik diri. 25,3% karyawan yang mengalami burnout bahkan menarik dirinya secara sosial di tempat kerja dan di rumah [4]. Hal ini disebabkan karena energi emosional yang dimiliki semakin berkurang [5].


Kapan Anda perlu mendapatkan bantuan profesional?


Jika kondisi kelelahan terus terjadi meskipun sudah beristirahat cukup, dan juga menurunnya motivasi untuk bekerja bahkan pada pekerjaan yang seharusnya disukai, Anda mungkin boleh mempertimbangkan untuk berkonsultasi pada tenaga profesional. Apalagi jika sampai mengalami gejala fisik seperti sakit kepala terus-menerus, tidak bisa tidur berkepanjangan, atau menderita sakit perut dan lainnya tanpa penyebab yang jelas [5]. Gejala fisik tersebut disebut sebagai psikosomatis, yaitu gejala yang disebabkan oleh masalah psikologis yang cukup berat atau berkepanjangan.


Apa saja yang dapat dilakukan ketika mulai mengalami burnout?


1.Buat prioritas

Tentukan skala prioritas pekerjaan Anda. Kerjakan yang penting terlebih dahulu agar energi Anda tidak terkuras terlalu banyak.


2.Bicarakan dengan atasan.

Beritahu atasan jika pekerjaan tersebut terlalu membebani dan Anda membutuhkan bantuan.


3.Kurangi ekspetasi dan berikan penghargaan kepada diri sendiri.

Jangan menekan diri sendiri terlalu keras hanya untuk menunjukkan hasil yang terbaik. Realistislah dan hargailah hasil jerih upaya Anda.


4.Berceritalah kepada orang yang dapat dipercaya.

Dengan bercerita diharapkan emosi negatif bisa berkurang dan beban pikiran hilang.


5.Jaga keseimbangan hidup.

Bersantailah sesekali karena work-life balance itu penting.


6.Ubah gaya hidup.

Konsumsi makanan sehat, olah raga rutin, berhenti merokok, dan tidur yang cukup dapat membantu Anda memiliki tubuh dan mental yang lebih sehat sehingga bisa tahan terhadap tekanan pekerjaan.


7.Carilah hobi baru atau kegiatan lain yang bisa memberikan kesenangan dan juga ketenangan pikiran di kala senggang. [7]


Bagaimana cara mencari bantuan dari psikolog atau tenaga profesional lainnya?


Jika Anda mengalami burnout dan tidak bisa mengatasinya sendiri, sebaiknya Anda segera mencari bantuan kepada tenaga profesional seperti psikolog/psikiater. Anda bisa datang ke puskesmas atau rumah sakit [9]. Selain itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) juga belum lama ini mengenalkan Healing119.id, sebuah layanan hotline dan laman dalam jaringan (daring) yang menyediakan informasi dan kontak pertolongan masalah mental [8].


Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm


Daftar Pustaka

[1] Rindu Annisa Putri, Nidya Dudija. (2024). Burnout among Generation Z Employees: A Literature Review. International Research Journal of Economics and Management Studies, Vol. 3, No. 6, pp. 348-353.

[2] World Health Organization. (2019). Burnout an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

[3] Muhammad Dwiki Septianto.(2026). Apa Perbedaan Burnout dan Kelelahan Biasa? Ini Penjelasan Lengkapnya. https://ipositivemind.com/apa-perbedaan-burnout-dan-kelelahan-biasa-ini-penjelasan-lengkapnya/

[4] Ferdinando Paulo Santarpia, Chiara Consiglio, Laura Borgogni. (2024). On the roots of interpersonal strain at work: The role of burnout and social self-efficacy. Personality and Individual Differences, Vol. 231.

[5] Rhamadhan Romly. (2026). Mengenal Burnout: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya. https://baraka.uma.ac.id/mengenal-burnout-tanda-penyebab-dan-cara-mengatasinya/

[6] Ardhia Annisa Putri,Tim Publikasi Katadata. (2026). Burnout atau Hanya Lelah? Kenali Bedanya Sebelum Terlambat! https://katadata.co.id/infografik/6aa0c8d7b2b4c/burnout-atau-hanya-lelah-kenali-bedanya-sebelum-terlambat

[7] Tim Promkes RSST - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. (2022). Burnout Syndrome/ Kelelahan Kerja. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/115/burnout-syndrome-kelelahan-kerja

[8] Ade Hasinudin Al Ansori. (2026). Butuh Teman Bicara Saat Krisis Mental? Kemenkes Sediakan Healing119.id.     https://www.liputan6.com/health/read/6254035/butuh-teman-bicara-saat-krisis-mental-kemenkes-sediakan-healing119id

[9] Intothelightid.org. (2026). Panduan Mencari Layanan Profesional Kesehatan Jiwa. https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater/



Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.