Stres yang Dipendam Terus-Menerus, Benarkah Bisa Memengaruhi Kesehatan Fisik?

HA
Hany Wibowo
0

Pernahkah Anda dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan penting lalu Anda terjebak dalam kemacetan hingga terancam datang terlambat? Waktu terus berjalan tetapi kendaraan yang Anda tumpangi tidak juga bergerak maju [1]. Jantung Anda lalu berdetak semakin kencang, napas memburu cepat, dan otot tubuh terasa tegang dan siap untuk mengambil aksi. Sebetulnya saat itu Anda sedang mengalami stres [2]. Hipotalamus, sebuah bagian kecil di otak memutuskan untuk mengeluarkan hormon stres sehingga Anda akan mengeluarkan respon ‘flight or fight’ terhadap ancaman tersebut [3].


Hubungan antara stres berkepanjangan dengan respons tubuh

Stres sebetulnya dibutuhkan untuk melindungi tubuh dalam situasi darurat. Namun, ketika stres terus muncul berkepanjangan, stres tersebut berubah menjadi kronis dan bisa mengganggu kesehatan. Stres kronis bisa berakibat terhadap pernapasan. Ketika stres saluran udara yang menghubungkan hidung dengan paru-paru menyempit, berakibat pada munculnya sesak napas.


Stres juga dapat mempengaruhi sistem kardiovaskular dengan meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko hipertensi, serangan jantung, dan stroke.

Selain itu, dampak stres juga dapat dirasakan pada sistem saluran pencernaan. Dampaknya berupa nyeri, perut kembung, mual, serta berbagai bentuk ketidaknyamanan pada perut. [2]


Bagaimana stres dapat memengaruhi tidur, nafsu makan, energi, dan konsentrasi.

Stres yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan tubuh berada dalam kondisi siaga dalam jangka waktu yang lama. Hal ini membuat penderita stres kronis biasanya akan sulit tidur dengan nyenyak dalam jangka waktu lama. Kondisi siaga ini dapat memicu berbagai reaksi lain dalam tubuh, seperti nyeri punggung, sakit kepala, serta menurunnya keinginan seseorang untuk melakukan aktivitas fisik. Itu sebabnya saat stres biasanya Anda akan cenderung malas bergerak seperti kehilangan energi. [4]


Meskipun demikian, stres bisa membuat nafsu makan meningkat karena kebanyakan orang membutuhkan perasaan senang yang didapat setelah memakan makanan yang mereka sukai. Di sisi lain, sebagian lainnya mengurangi porsi makan hingga kehilangan berat badan akibat menurunnya tingkat energi. Kekurangan energi pada akhirnya juga membuat konsentrasi ikut menurun. [4]


Mengapa emosi tidak harus selalu “dilampiaskan” untuk bisa dikelola

Emosi seperti marah, sedih, takut, dan sebagainya memang boleh diekspresikan, tetapi tidak perlu secara berlebihan. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengelolanya. Karena emosi yang tidak bisa dikelola dengan baik akan bisa menjadi sumber penyebab stres. [3]

 

Cara yang lebih sehat untuk mengenali dan memproses emosi

Paling utama untuk mengenali emosi adalah kita memiliki kesadaran diri. Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi sendiri. Individu yang memiliki kesadaran diri yang baik dapat mengidentifikasi emosi mereka dengan lebih akurat dan memahami bagaimana emosi tersebut mempengaruhi perilaku dan keputusan mereka. Kedua, kita harus selalu berpikiran positif. Karena pikiran negatif atau keyakinan yang tidak realistis dapat memperburuk perasaan dan menyebabkan kesulitan dalam mengelola emosi. [5]


Cara untuk mengelola emosi yang paling mudah dan bisa kita lakukan sendiri di rumah adalah dengan membuat jurnal emosi. Dengan menulis tentang pengalaman dan emosi Anda, Anda dapat mendapatkan wawasan tentang pola emosional Anda dan menemukan cara untuk mengatasi perasaan dengan lebih baik. Kedua, mengembangkan keterampilan coping yang sehat, seperti teknik relaksasi, olahraga, atau aktivitas yang menyenangkan, dapat membantu mengatasi emosi yang sulit. Ketiga, Anda bisa berbagi cerita kepada orang lain. Berbicara dengan teman, keluarga, atau seorang profesional dapat memberikan dukungan emosional dan perspektif yang berbeda. [5]


Kapan stres mulai mengganggu fungsi sehari-hari dan membutuhkan bantuan profesional?

Segera kunjungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk meminta bantuan dokter, psikiater, atau tenaga kesehatan lain jika merasa gejala stres yang dialami semakin parah. Berikut beberapa kondisi lain yang perlu diwaspadai dan memerlukan penanganan lebih lanjut:

  1. Tidak bisa mengendalikan rasa takut dan panik.
  2. Tidak mampu beraktivitas sehari-hari.
  3. Merasa sedih berkepanjangan selama lebih dari 2 minggu.
  4. Menyalahgunakan obat-obatan atau alkohol untuk mengatasi stres.
  5. Merasa putus asa sehingga berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan mengakhiri hidup. [6]


Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm


  1. [1] Ann Pietrangelo. (2025). The Effects on Stress on Your Body. https://www.healthline.com/health/stress/effects-on-body

  2. [2] Goetsch, Virginia L.;Larkin, Kevin T. (2024). Physiological responses to stress. https://www.ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/physiological-responses-stress

  3. [3] Rumah anak SIGAP, Tanoto Foundation. (2026). Pentingnya Pengelolaan Emosi. https://sigap.tanotofoundation.org/artikel-blog/pentingnya-pengelolaan-emosi/

  4. [4] Hill, Deborah; Conner, Mark; Faye, Clancy; Moss, Rachael; Wilding, Sarah; Bristow, Matt; O’Connor, Daryl B. Stress and eating behaviours in healthy adults: a systematic review and meta-analysis. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17437199.2021.1923406#abstract

  5. [5] Imam. (2024). Mengelola Emosi: Strategi Psikologis untuk Kesejahteraan Emosional. https://psikologi.uma.ac.id/mengelola-emosi-strategi-psikologis-untuk-kesejahteraan-emosional/

  6. [6] Kemenkes. (2026). Stres. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/kelainan-mental/stres#:~:text=Namun%20apabila%20gejala%20yang%20dirasakan%20tidak%20mereda%20dan,pada%20kondisi%20medis%2C%20dokter%20mungkin%20akan%20meresepkan%20obat. 


Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.