Pernahkah kamu mendengar cerita atau bahkan mengalaminya sendiri: sudah mendapatkan vaksinasi, tetapi beberapa bulan kemudian masih terkena penyakit yang sama? Lalu muncul pertanyaan, “Kalau akhirnya masih sakit, sebenarnya apa manfaat vaksin?”
Tenang, hal ini memang dapat terjadi. Namun, ada hal penting yang perlu dipahami mengenai cara kerja dan manfaat vaksin. Yuk, kita bedah pelan-pelan!
Sebenarnya, apa tujuan utama vaksin?
Secara sederhana, vaksin dapat diibaratkan sebagai sarana latihan bagi sistem kekebalan tubuh. Vaksin membantu sistem imun mengenali antigen tertentu dari suatu patogen, sehingga tubuh dapat membentuk respons kekebalan dan lebih siap menghadapi patogen tersebut jika suatu saat masuk ke dalam tubuh (CDC, 2023; Plotkin, 2010).
Vaksin memperkenalkan bagian atau bentuk tertentu dari suatu patogen kepada sistem kekebalan tubuh, sehingga sel imun bisa “belajar” mengenalinya dan mempersiapkan respons jika suatu saat bertemu dengan patogen yang sebenarnya. Dengan demikian, mendapatkan vaksinasi bukan berarti seseorang menjadi sepenuhnya kebal terhadap infeksi.
Kenapa setelah vaksin kita masih bisa terinfeksi?
Dalam dunia kesehatan, tidak ada intervensi yang memberikan perlindungan 100% pada setiap orang. Ketika patogen masuk ke tubuh, ia masih mungkin berkembang biak sebelum sistem imun berhasil mengendalikannya. Karena itu, seseorang yang sudah divaksin tetap bisa mengalami infeksi. Namun, hal yang perlu diperhatikan bukan hanya kemungkinan terjadinya infeksi, melainkan juga risiko penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Ada dua aspek perlindungan vaksin yang perlu dibedakan:
- Perlindungan terhadap infeksi. Vaksin dapat menurunkan kemungkinan seseorang terinfeksi, meskipun tidak selalu mencegah infeksi sepenuhnya.
- Perlindungan terhadap penyakit berat. Vaksin tertentu dapat membantu menurunkan risiko komplikasi, rawat inap, dan kematian apabila infeksi tetap terjadi (Feikin et al., 2022; Tenforde et al., 2021).
Artinya, meskipun seseorang tetap terinfeksi setelah vaksinasi, respons imun yang telah terbentuk dapat membantu tubuh mengendalikan infeksi. Oleh karena itu, infeksi setelah vaksinasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa vaksin tidak bekerja.
Mengapa respons terhadap vaksin dapat berbeda pada setiap orang?
Respons imun setiap orang memang tidak selalu sama. Ada beberapa faktor dapat memengaruhinya, misalnya:
1. Usia
Seiring bertambahnya usia, fungsi sistem kekebalan tubuh dapat mengalami perubahan. Kondisi ini dikenal sebagai immunosenescence dan dapat memengaruhi respons tubuh terhadap vaksin (Aw et al., 2007).
2. Kondisi kesehatan
Penyakit tertentu, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta penggunaan obat yang menekan sistem imun dapat memengaruhi respons tubuh terhadap vaksin.
3. Kondisi tubuh dan gaya hidup
Kualitas tidur, status gizi, dan tingkat stres berkaitan dengan fungsi sistem kekebalan tubuh. Namun, pengaruh masing-masing faktor terhadap respons vaksin dapat berbeda dan tidak selalu dapat disimpulkan secara langsung pada setiap individu.
Selain faktor-faktor tersebut, jenis vaksin, karakteristik patogen, dan waktu sejak vaksinasi juga dapat memengaruhi besarnya perlindungan yang terbentuk (Plotkin, 2010; Feikin et al., 2022). Dengan demikian, respons dan tingkat perlindungan yang diperoleh dari vaksinasi tidak selalu identik pada setiap orang.
Mengapa beberapa vaksin membutuhkan dosis penguat atau booster?
Perlindungan yang terbentuk setelah vaksinasi dapat berubah seiring waktu. Pada beberapa vaksin, kadar antibodi dapat menurun setelah mencapai puncaknya. Selain itu, perubahan karakteristik patogen, termasuk munculnya varian tertentu, dapat memengaruhi tingkat perlindungan vaksin, terutama terhadap infeksi (Goldberg et al., 2021; Feikin et al., 2022). Oleh karena itu, pada vaksin tertentu, dosis penguat atau booster diberikan untuk memperkuat kembali respons imun dan meningkatkan perlindungan sesuai kebutuhan.
Dosis penguat dapat diibaratkan sebagai penyegaran bagi sistem kekebalan tubuh agar kembali memberikan respons yang lebih optimal ketika menghadapi patogen. Namun, tidak semua vaksin memerlukan booster dengan jadwal yang sama. Kebutuhan dan jadwal pemberiannya bergantung pada jenis vaksin, penyakit yang dicegah, kondisi individu, serta rekomendasi kesehatan yang berlaku.
“Kalau masih bisa sakit, berarti vaksinnya gagal?”
Tidak sesederhana itu. Bayangkan vaksin seperti sabuk pengaman. Sabuk pengaman tidak dapat mencegah kecelakaan terjadi, tetapi dapat membantu mengurangi risiko cedera serius ketika kecelakaan terjadi. Vaksin memiliki manfaat perlindungan yang lebih beragam. Bergantung pada jenisnya, vaksin dapat membantu mengurangi risiko infeksi sekaligus menurunkan risiko penyakit berkembang menjadi berat.
Keberhasilan vaksin tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuannya mencegah infeksi, tetapi juga berdasarkan efektivitasnya dalam mengurangi risiko penyakit bergejala, komplikasi, rawat inap, dan kematian. Berbagai penelitian mengenai vaksin COVID-19, misalnya, menunjukkan bahwa perlindungan terhadap infeksi dan penyakit berat dapat berbeda serta berubah seiring waktu (Feikin et al., 2022; Tenforde et al., 2021).
Dengan demikian, seseorang yang tetap terinfeksi setelah vaksinasi tidak otomatis menunjukkan bahwa vaksinnya gagal. Namun, manfaat vaksin juga tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pengalaman satu orang. Efektivitas vaksin perlu dievaluasi berdasarkan bukti ilmiah dan luaran kesehatan yang relevan.
Jadi, daripada hanya bertanya, “Apakah saya masih bisa tertular setelah divaksin?”, ada pertanyaan lain yang juga penting untuk dipahami: “Seberapa besar vaksin dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan penyakit berat?”
Dengan memahami cara kerja vaksin secara lebih menyeluruh, kita dapat menilai manfaat vaksinasi dengan lebih tepat dan tidak langsung menyimpulkan bahwa vaksin gagal hanya karena infeksi masih mungkin terjadi.
Artikel ini di review oleh:
apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. (2022). COVID-19 vaccine breakthrough
infections: What you need to know. WHO Scientific Briefs.
2. Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Understanding how
vaccines work. U.S. Department of Health and Human Services.
https://www.cdc.gov/vaccines/basics/explaining-how-vaccines-work.html
3. Plotkin, S. A. (2010). Correlates of protection induced by vaccination.
Clinical and Vaccine Immunology, 17(7), 1055–1065.
https://doi.org/10.1128/CVI.00131-10
4. Feikin, D. R., Higdon, M. M., Abu-Raddad, L. J., Andrews, N., Bachmann,
R., Bärnighausen, T., et al. (2022). Duration of effectiveness of vaccines
against SARS-CoV-2 infection and severe disease: A systematic review
and meta-regression. The Lancet, 399(10328), 924–944.
https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)00152-0
5. Aw, D., Silva, A. B., & Palmer, D. B. (2007). Immunosenescence: Emerging
challenges for an ageing population. Immunology, 120(4), 435–446.
https://doi.org/10.1111/j.1365-2567.2007.02553.x
6. Goldberg, Y., Mandel, M., Bar-On, Y. M., Bodenheimer, O., Freedman, L.,
Haas, E. J., et al. (2021). Waning immunity after the BNT162b2 vaccine in
Israel. The New England Journal of Medicine, 385(24), e85.
https://doi.org/10.1056/NEJMoa2114228
7. Tenforde, M. W., Self, W. H., Adams, K., Gaglani, M., Ginde, A. A., McNeal,
T., et al. (2021). Association between mRNA vaccination and COVID-19
hospitalization and disease severity. JAMA, 326(20), 2043–2054.