Di Balik Vaksin: Cara Tubuh Membangun Pertahanan terhadap Penyakit

EL
Ellen Nathania
0

Sejak pertama kali vaksin ditemukan pada tahun 1798, vaksin telah berperan besar dalam pencegahan berbagai penyakit menular. Hingga saat ini, vaksinasi diperkirakan telah menyelamatkan 3,5–5 juta jiwa setiap tahun dari penyakit menular. Seiring berkembangnya teknologi kesehatan, berbagai vaksin berhasil dikembangkan untuk mencegah penyakit seperti Polio, Hepatitis B, tuberkulosis (TBC), campak, rubella, HPV, hingga COVID-191.

Vaksin merupakan produk biologi yang mengandung antigen, yaitu zat yang berasal dari bakteri atau virus yang telah dimatikan, dilemahkan, atau bagian dari mikroorganisme. Pemberian vaksin mampu melindungi tubuh dari infeksi patogen dalam jangka panjang dengan menstimulasi respons dari sistem imun tubuh. Tidak hanya melindungi individu, vaksinasi juga membantu melindungi komunitas melalui penurunan penularan penyakit2

Secara alami, tubuh akan mengaktifkan sistem imun ketika terpapar organisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri. Setelah pulih dari infeksi, tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melindungi tubuh jika terjadi infeksi oleh patogen yang sama. Komponen biologis dalam vaksin bekerja dengan mensimulasikan proses infeksi sehingga tubuh dapat memproduksi antibodi tanpa menimbulkan penyakit pada penerima vaksin. Dengan demikian, tubuh telah memiliki mekanisme pertahanan ketika terpapar patogen yang sama di kemudian hari3

Di Indonesia, pemerintah memiliki program imunisasi dasar lengkap yang dimulai sejak bayi hingga usia dewasa. Pemberian vaksin pada usia dini bertujuan memberikan perlindungan sedini mungkin terhadap penyakit berbahaya. Pemberian vaksin pertama diberikan pada bayi di antaranya vaksin Hepatitis B, polio, pneumokokus, tuberkulosis, Difteri-Tetanus-Pertusis (DPT) dan Campak-Rubella. Beranjak memasuki usia sekolah, vaksinasi dilanjut dengan pemberian vaksin Tetanus-Difteri (TD) dan Human Papillomavirus (HPV) bagi anak perempuan. Namun bukan hanya untuk anak, orang dewasa juga dapat menerima vaksin tambahan khususnya bagi populasi berisiko seperti vaksin influenza yang diberikan tiap tahun4,5

Setelah menerima vaksin, tubuh dapat memberikan respons berupa demam ringan atau nyeri pada area suntikan. Efek samping lain yang umum terjadi antara lain mengantuk, muntah, atau penurunan nafsu makan. Reaksi yang muncul setelah imunisasi ini disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI dapat disebabkan oleh respons tubuh terhadap kandungan vaksin, kecemasan saat proses penyuntikan, maupun kondisi kesehatan tertentu yang sudah ada sebelumnya. Sebagian besar KIPI bersifat ringan dan akan membaik dalam 1–2 hari tanpa pengobatan khusus⁶.

Demam merupakan efek samping yang paling sering muncul setelah vaksinasi. Kondisi ini normal terjadi sebagai respons tubuh terhadap kandungan produk biologi yang terdapat dalam vaksin dan mengaktifkan sinyal pembentukan imun tubuh. Umumnya, demam akan reda dengan istirahat cukup dan menjaga asupan cairan namun jika demam berlangsung. Bila diperlukan, obat pereda demam seperti parasetamol dan ibuprofen dapat dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Apabila suhu tubuh tetap mencapai ≥38,5°C selama lebih dari 24 jam, atau demam semakin berat, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Sementara itu, bengkak atau nyeri pada area suntikan dapat dikurangi dengan kompres dingin7.

Meski umumnya ringan, pada beberapa kasus tubuh merespons vaksin dengan menimbulkan gejala serius seperti reaksi alergi berat, penurunan trombosit, kejang, atau lemah otot. Gejala alergi berat yang perlu diwaspadai seperti ruam dan gatal pada kulit, batuk, bersin, sesak napas, pusing, kebingungan, jantung berdebar, sakit kepala, mual, muntah, hingga diare. Kasus KIPI berat sangat jarang dan umumnya dapat ditangani dengan baik tanpa menimbulkan dampak jangka panjang. Namun, apabila muncul gejala yang membahayakan atau tidak kunjung membaik setelah vaksinasi, segera periksakan diri ke dokter⁶.

Untuk membantu mengurangi risiko KIPI setelah vaksinasi, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

  1. Hindari aktivitas fisik berat setelah imunisasi.
  2. Hindari paparan panas berlebih.
  3. Jangan menekan atau menggosok area bekas suntikan.
  4. Istirahat yang cukup dan perbanyak minum air putih.
  5. Konsultasikan terlebih dahulu sebelum mengonsumsi suplemen atau obat yang dapat memengaruhi sistem imun⁶.


Direview oleh : apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm


Referensi

  1. Jiskoot, W., Kersten, G.F.A. and Mastrobattista, E. (2013). Vaccines. Pharmaceutical Biotechnology, [online] pp.439–457. doi:10.1007/978-1-4614-6486-0_22.
  2. Zhang, C., D’Angelo, D., Buttini, F. and Yang, M. (2024). Long-acting inhaled medicines: Present and future. Advanced Drug Delivery Reviews, [online] 204, p.115146. doi:10.1016/j.addr.2023.115146.
  3. Iwasaki, A. and Omer, S.B. (2020). Why and How Vaccines Work. Cell, [online] 183(2), pp.290–295. doi:10.1016/j.cell.2020.09.040.
  4. ‌Kemkes.go.id. (2025). Pekan Imunisasi Dunia 2025: Ayo Lengkapi Imunisasi untuk Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas. [online] Available at: https://kemkes.go.id/id/pekan-imunisasi-dunia-2025-ayo-lengkapi-imunisasi-untuk-generasi-sehat-menuju-indonesia-emas [Accessed 20 Apr. 2026].
  5. Ministry of Health Singapore. (2026). Vaccinations. [online] Available at: https://vaccine.gov.sg/flu [Accessed 22 Apr. 2026].
  6. ‌Kemkes.go.id. (2024). Apa Itu KIPI: Penyebab, Gejala, Pencegahan dan Pengobatannya. [online] Available at: https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-kipi [Accessed 20 Apr. 2026].
  7. Ministry of Health Singapore. (2026). Post-Vaccination Advice (For Children and Adults) | SingHealth Polyclinics. [online] Available at: https://polyclinic.singhealth.com.sg/our-clinic-services/vaccinations/post-vaccination-advice#:~:text=How%20to%20Manage%20Local%20Reactions%20*%20If,or%20persists%20for%20more%20than%2024%20hours. [Accessed 21 Apr. 2026].

Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.