Dijual Bebas tetapi Tetap Berisiko

EL
Ellen Nathania
0

Tentunya sebagian besar orang pernah membeli obat secara bebas untuk meredakan penyakit dengan gejala ringan. Keluhan seperti demam, flu, batuk, atau alergi sering kali dapat mereda dengan konsumsi obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Upaya pengobatan mandiri untuk mengatasi keluhan kesehatan tersebut dikenal sebagai swamedikasi. 

Menurut data yang dihimpun oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2024, sekitar 67% masyarakat Indonesia pernah melakukan swamedikasi1. Swamedikasi merupakan upaya seseorang dalam memilih dan menggunakan obat secara mandiri untuk mengatasi penyakit atau gejala yang diderita. Praktik ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, khususnya dalam menangani keluhan ringan yang dapat diatasi secara mandiri. Swamedikasi betujuan untuk meningkatkan akses kesehatan masyarakat untuk mengatasi sakit ringan2

Obat yang digunakan dalam praktik swamedikasi umumnya merupakan obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter atau dikenal sebagai Over-The-Counter (OTC). Obat OTC terdiri dari obat bebas dan obat bebas terbatas yang dapat ditemukan di apotek, toko obat, maupun beberapa fasilitas penjualan lainnya. Obat bebas merupakan obat yang dapat diebeli secara bebas tanpa resep dokter. Obat golongan ini ditandai dengan lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam seperti parasetamol dan anatasida. Sementara itu, obat bebas terbatas merupakan obat keras yang tetap dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter namun dengan peringatan khusus. Obat golongan ini ditandai dengan lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam seperti cetirizine dan ibuprofen3.

Meskipun dapat diperoleh tanpa resep dokter, obat bebas dan obat bebas terbatas tetap harus digunakan secara bijak sesuai aturan pakai. Penggunaan yang tidak tepat, seperti melebihi dosis yang dianjurkan, meningkatkan frekuensi penggunaan, memperpanjang durasi pemakaian tanpa anjuran tenaga kesehatan, atau mengombinasikan obat dengan obat maupun senyawa lain yang berpotensi berbahaya, dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat menyebabkan efek samping serius hingga kegawatdaruratan medis.4

Menurut Analisis Data Kasus Keracunan Obat dan Makanan Tahun 2024, terdapat 248 kasus keracunan obat sepanjang tahun 2024 yang dilaporkan oleh Balai Besar/Balai POM dan rumah sakit yang menjadi mitra Aplikasi SPIMKer KLB-KP5. Kemudahan akses serta harga obat OTC yang relatif terjangkau membuat masyarakat lebih mudah memperoleh obat. Namun, hal ini dapat menimbulkan presepsi bahwa obat-obatan yang dijual secara bebas lebih aman digunakan dibanding obat yang harus dibeli menggunakan resep dokter. Padahal, penggunaan obat OTC yang tidak tepat dapat mengkatkan risiko penyalahgunaan obat4

Dalam praktik swamedikasi, apoteker memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan obat yang aman dan efektif. Peran apoteker diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Berdasarkan peraturan tersebut, apoteker bertanggung jawab dalam memastikan keamanan, mutu dan efikasi obat yang digunakan. Apoteker juga berperan dalam memberikan edukasi serta membantu memilih obat bebas atau obat bebas terbatas yang sesuai dengan kondisi pasien. Oleh karena itu, keterlibatan apoteker penting untuk memastikan swamedikasi efektif dan aman4.

Sebelum melakukan swamedikasi, penting untuk pasien mengetahui obat yang tepat dan aman untuk digunakan. Ketika memilih obat, jangan hanya fokus pada indikasi dan dosis melainkan pahami juga peringatan, kontraindikasi, dan efek samping obat yang tercantum pada kemasan atau brosur obat. Pemilihan obat swamedikasi bagi populasi khusus seperti wanita hamil atau menyusui, lansia dan penderita penyakit kronis harus lebih berhati-hati untuk menghindari kontraindikasi sehingga disarankan untuk berkonsultasi kepada tenaga kesehatan sebelum memilih obat7,8. Untuk anak, pastikan pada aturan pakai obat tertera dosis sesuai usia anak. Yang terakhir, jangan ragu untuk bertanya kepada apoteker yang bertugas di apotek untuk merekomendasikan obat sesuai dengan kondisi Anda. Jika telah menjalankan swamedikasi selama 3 hari namun kondisi kesehatan tidak membaik atau semakin memburuk, segera konsultasikan kepada dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. 


Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm


Referensi:

  1. Badan Pengawas Obat dan Makanan, "Laporan Survei Penggunaan Obat Masyarakat Indonesia 2024," Jakarta: BPOM RI, 2024. Badan Pengawas Obat dan Makanan, "Laporan Survei Penggunaan Obat Masyarakat Indonesia 2024," Jakarta: BPOM RI, 2024. 
  2. Kementrian Kesehatan RI. 2024. Swamedikasi. Tersedia daring pada : https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3320/swamedikasi 
  3. Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman pneggunaan Obat bebas dan Obat Bebas Terbatas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI 
  4. Abraham, O. and Chmielinski, J. (2018). Adolescents’ Misuse of Over-The-Counter Medications: The Need for Pharmacist-led Intervention. INNOVATIONS in pharmacy, [online] 9(3), p.4. doi:10.24926/iip.v9i3.979.
  5. ‌Pom.go.id. (2025). PORTAL - Publikasi. [online] Available at: https://pusakom.pom.go.id/riset-kajian/detail/analisis-data-kasus-keracunan-obat-dan-makanan-tahun-2024 [Accessed 28 June 2026].
  6. ‌Peraturan Badan Pengawas Obat Dan Makanan Nomor 5 Tahun 2026 Tentang Pengawasan Pengelolaan Obat Dan Bahan Obat Di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian Dan Fasilitas Lain 
  7. Ahmed, H.N., Damtew, B.S., Bezabih, W.A., Wakwoya, E.B., Abdi, H.B. and Tiruye, G. (2025). Self-medication practices and associated factors among pregnant women in Oromia, Ethiopia: institutional based cross-sectional study. Frontiers in Medicine, [online] 12. doi:10.3389/fmed.2025.1489990.
  8. ‌Alwhaibi, M., Bin Malik, S., Alswailem, L. and Alruthia, Y. (2023). Self-medication among adults with chronic health conditions: a population-based cross-sectional survey in Saudi Arabia. BMJ Open, [online] 13(4), p.e069206. doi:10.1136/bmjopen-2022-069206.


Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.