Untuk Kamu yang Tiap Bulan Rasain Nyeri Haid, Ini Penjelasannya

AP
apt. Ridhatul Qaivani, S. Farm
0

Untuk Kamu yang Tiap Bulan Rasain Nyeri Haid, Ini Penjelasannya


Nyeri haid disebut juga dysmenorrhea. Dysmenorrhea berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (“nyeri”), meno (“bulan”), dan rrhea (“aliran”), yakni nyeri yang dirasakan tiap bulan saat akan atau selama menstruasi. Kram perut menjelang haid itu rasanya macam-macam. Ada yang cuma senut-senut ringan, sampai ada yang tidak bisa bangun dari kasur. Kalau kamu termasuk yang mengalaminya, kamu tidak sendirian. Sebanyak 45–95% perempuan usia reproduktif pernah merasakan nyeri haid [1]. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi sehingga nyeri haid bisa terjadi??


Prosesnya begini, menjelang haid, kadar hormon progresteron menurun, sehingga lapisan dinding rahim mulai luruh. Saat proses luruhnya dimulai, sel-sel dinding rahim melepas prostaglandin, yang kemudian merangsang otot rahim untuk berkontraksi. Semakin banyak prostaglandin yang dilepas, semakin kuat kontraksinya, dan otomatis semakin terasa nyeri atau kramnya. Tak berhenti di situ, efek prostaglandin juga bisa menjalar ke saluran pencernaan di sekitar rahim, sehingga sebagian wanita juga merasakan mual atau bahkan diare saat nyeri haid datang. Untuk mengatasi nyeri yang masih ringan, dapat dicoba dengan cara sederhana seperti kompres hangat di perut bawah, pijat pelan, tidur cukup, dan kelola stress [3].


Lantas, kapan obat pereda nyeri diperlukan? Jika cara di atas belum cukup dan nyeri mengganggu aktivitas, obat pereda nyeri bisa menjadi Solusi. Ibuprofen atau naproksen (golongan NSAID) menjadi pilihan pertama karena kerjanya yang memblokir produksi prostaglandin, sumber nyerinya langsung. Obat ini juga mudah didapatkan, terjangkau, serta memiliki profil keamanan yang baik. Namun, bagi yang tidak bisa menggunakan NSAID, alternatif yang dapat digunakan adalah parasetamol, obat ini bekerja di sistem saraf pusat untuk menghambat produksi prostaglandin.


Selain jenis obatnya, waktu minum obat tidak kalah penting. NSAID dapat diminum mulai 1–2 hari sebelum haid datang, lalu diteruskan 2–3 hari pertama hari menstrusasi [4]. Minum setelah makan, sesuai dosis yang tertera di label. Perlu diingat, sekitar 11–14% pengguna NSAID mengalami efek samping pencernaan [2], jadi kalau kamu punya riwayat maag atau tukak lambung, lebih aman pakai parasetamol. Jika kamu punya penyakit ginjal, hati, asma yang kambuh karena obat ini, atau mungkin alergi NSAID? Konsultasikan terlebih dahulu ke tenaga kesehatan ya!


Terakhir dan ini penting, nyeri haid memang umum, tapi bukan berarti semua nyeri wajar. Periksakan diri bila nyeri tak membaik setelah 3–6 bulan pengobatan, sampai mengganggu tidur atau pekerjaan, perdarahan sangat deras (ganti pembalut tiap 1–2 jam), nyeri muncul di luar jadwal haid atau saat berhubungan intim, atau disertai pingsan.


Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm


Referensi :


Kirsch, E., Rahman, S., Kerolus, K., Hasan, R., Kowalska, D. B., Desai, A., & Bergese, S. D. (2024). Dysmenorrhea, a narrative review of therapeutic options. Journal of Pain Research, 17, 2657–2666. https://doi.org/10.2147/JPR.S459584

Marjoribanks, J., Ayeleke, R. O., Farquhar, C., & Proctor, M. (2015). Nonsteroidal anti-inflammatory drugs for dysmenorrhoea. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2015(7), Article CD001751. https://doi.org/10.1002/14651858.CD001751.pub3

Merck & Co. (2026). Dysmenorrhea. MSD Manual Professional Version. https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/abnormal-uterine-bleeding/dysmenorrhea

American College of Obstetricians and Gynecologists. (2018). ACOG Committee Opinion No. 760: Dysmenorrhea and endometriosis in the adolescent. Obstetrics & Gynecology, 132(6), e249–e258. https://doi.org/10.1097/AOG.0000000000002978


Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.