Kulit merupakan bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai pelindung utama dari berbagai ancaman dari luar. Selain melindungi tubuh dari kuman dan paparan lingkungan, kulit juga membantu mengatur suhu tubuh, mencegah kehilangan cairan, serta memungkinkan kita merasakan sentuhan, tekanan, dan perubahan suhu. Berbagai fungsi penting tersebut menjadikan kulit berperan besar dalam menjaga kesehatan tubuh1.
Kulit memiliki sistem pertahanan alami yang melindungi tubuh dari berbagai zat yang dapat menyebabkan iritasi atau penyakit. Sistem pertahanan ini terdiri dari berbagai sel imun yang bekerja sama menjaga kesehatan kulit. Ketika kulit terpapar alergen, iritan, atau kuman tertentu, sel-sel imun tersebut akan merespons untuk melindungi tubuh. Namun, pada kondisi tertentu, respons ini juga dapat memicu peradangan dan menimbulkan rasa gatal2.
Gatal (pruritus) adalah sensasi tidak nyaman pada kulit yang memicu keinginan untuk menggaruk. Gatal dapat muncul pada berbagai kondisi kulit dan, jika berlangsung berat atau berkepanjangan, dapat mengganggu kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, serta menurunkan kualitas hidup penderitanya. Saat mengalami gatal, sebagian besar orang secara spontan akan menggaruk area yang terasa gatal, meskipun dapat memberikan rasa lega sesaat, kebiasaan ini justru dapat memperparah iritasi kulit dan menyebabkan rasa gatal berulang3.
Kenapa Gatal Semakin Parah Saat Digaruk?
Garukan memang dapat memberikan rasa lega karena rangsangan mekanis pada kulit yang mengaktifkan jalur saraf yang dapat menghambat sementara sensasi gatal. Namun, efek ini hanya bersifat sementara. Dan jika gatal berlangsung terus-menerus, kebiasaan menggaruk berulang kali justru dapat merusak lapisan pelindung kulit. Kerusakan ini dapat memicu peradangan dan membuat kulit menjadi semakin sensitif. Akibatnya, rasa gatal muncul kembali bahkan bisa menjadi lebih parah dari sebelumnya. Para peneliti menemukan bahwa, ketika kulit terus-menerus digaruk, interaksi antara sel kulit, sistem imun, dan sistem saraf dapat semakin aktif sehingga memperkuat rasa gatal dan mendorong seseorang untuk terus menggaruk. Siklus inilah yang sering menjadi penyebab gatal sulit sembuh4.
Apa yang Terjadi Saat Kulit Terus Digaruk?
Peneliti menemukan bahwa garukan dapat memicu pelepasan substance P dari saraf. Substance P adalah zat kimia yang dilepaskan oleh sel saraf saat tubuh merasakan nyeri atau iritasi. Zat ini berperan dalam mengirimkan sinyal nyeri dan dapat memicu proses peradangan pada kulit. Ketika kulit terus digaruk, pelepasan substance P dapat meningkat dan memperparah peradangan5. Zat ini akan mengaktifkan sel imun mast cell sehingga terjadi peradangan semakin meningkat dan akhirnya memperkuat rasa ingin menggaruk.
Sedangkan Mast cell merupakan salah satu jenis sel dari sistem kekebalan tubuh yang banyak ditemukan di kulit. Sel ini berfungsi membantu tubuh merespons alergen, infeksi, atau cedera dengan melepaskan berbagai zat, termasuk histamin yang dapat menimbulkan rasa gatal, kemerahan, dan pembengkakan. Ketika mast cell terlalu aktif, peradangan dan rasa gatal dapat menjadi semakin parah. Menggaruk berlebihan dapat menyebabkan luka pada kulit, meningkatkan risiko infeksi, dan meninggalkan bekas luka5.
Penyebab Gatal dan Perbedaan Penanganannya
Gatal dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu sebagai berikut6 :
| Tipe | Mekanisme | Contoh |
| Penyakut Kulit (Dermatologic) | Terjadi karena kulit mengalami peradangan atau lapisan pelindung kulit terganggu. | Dermatitis atopik. |
| Gangguan Saraf (Neuropathic) | Terjadi karena adanya gangguan atau kerusakan pada saraf yang membawa sinyal gatal. | Notalgia paresthetica, brachioradial pruritus, multiple sclerosis, tumor otak. |
| Penyakit Organ Dalam (Organ Sistemic) | Dapat terjadi karena penyakit pada organ dalam memengaruhi munculnya atau pemrosesan sinyal gatal dalam tubuh. | Penyakit ginjal kronis. |
| Psikogenik (Faktor Psikologis) | Berkaitan dengan kondisi psikologis atau psikiatris tertentu. | Depresi dan kecemasan. |
Tabel 1. Klasifikasi Gatal (Coscarella et al. (2026)
- Penyakit kulit (Dermatologic)
Gatal akibat penyakit kulit (dermatologis atau pruriseptif) terjadi ketika peradangan atau gangguan pada kulit mengaktifkan saraf yang membawa sinyal gatal. Kondisi ini dapat terjadi pada dermatitis atopik, psoriasis, dan urtikaria. Jenis gatal ini umumnya disertai ruam atau perubahan pada kulit akibat terganggunya lapisan pelindung kulit, peradangan, dan pelepasan zat yang memicu rasa gatal6.
- Gangguan saraf (Neuropathic)
Gatal akibat gangguan saraf (neuropatik) terjadi ketika saraf yang membawa sensasi gatal mengalami gangguan atau kerusakan. Kondisi ini biasanya tidak disertai penyakit kulit sebagai penyebab utama, meskipun bekas garukan dapat ditemukan. Gangguan dapat terjadi pada saraf tepi, seperti pada notalgia paresthetica, brachioradial pruritus, dan gatal setelah herpes, maupun pada sistem saraf pusat, seperti pada multiple sclerosis dan tumor otak6.
- Efek dari penyakit organ dalam (Organ Systemic)
Gatal akibat penyakit organ dalam (sistemik) berkaitan dengan penyakit yang memengaruhi organ-organ di dalam tubuh. Gatal dapat muncul karena adanya zat pemicu gatal yang beredar dalam darah atau karena perubahan cara tubuh memproses sinyal gatal. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kondisi ini antara lain penyakit ginjal kronis, penyakit hati kolestatik, dan kanker pada sistem darah, seperti limfoma. Pada kondisi ini, gatal dapat muncul tanpa disertai kelainan kulit yang jelas7.
- Faktor psikologis
Gatal yang berkaitan dengan kondisi psikologis (psikogenik) berhubungan dengan kondisi psikologis atau psikiatris, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan somatoform6.
Dalam beberapa kasus, gatal dapat terjadi karena lebih dari satu penyebab. Misalnya, gatal akibat penyakit kulit yang berlangsung lama dapat berkembang dan melibatkan gangguan pada saraf. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui penyebab gatal agar penanganan yang diberikan dapat lebih tepat dan efektif6.
Langkah awal dan mudah untuk mengatasi gatal tanpa obat
Berikut merupakan langkah awal dan mudah untuk mengatasi gatal-gatal pada kulit, yaitu8 :
- Menjaga kelembapan kulit dan menghindari iritasi dapat membantu mengurangi pemicu gatal serta mendukung proses pemulihan kulit.
- Pemilihan pakaian juga dapat memengaruhi rasa gatal. Bahan tertentu dapat membantu menjaga fungsi pelindung kulit dan mengurangi iritasi, sedangkan pakaian yang tidak sesuai justru dapat memperparah gejala. Untuk membantu mengurangi iritasi, pilih pakaian berbahan lembut dan menyerap keringat seperti katun serta hindari bahan yang kasar, terlalu ketat, atau membuat kulit mudah berkeringat.
- Menggunakan pelembap yang kemudian ditutup dengan balutan lembap (wet-wrap therapy) dapat membantu menjaga kelembapan kulit, memperkuat lapisan pelindung kulit, dan mengurangi rasa gatal.
- Mengelola stres melalui teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan, mindfulness, atau relaksasi otot progresif, dapat membantu mengurangi rasa gatal, memperbaiki kualitas tidur, dan membantu memutus siklus gatal-garuk pada gatal kronis.
Kapan Dapat Menggunakan Obat atau Produk Topikal untuk Membantu Mengatasi Gatal?
Pendekatan terapi pada pruritus (gatal) ditentukan berdasarkan penyebab dan mekanisme yang mendasarinya. Terapi topikal (produk yang dioleskan pada kulit) umumnya menjadi pilihan awal pada gatal yang disebabkan oleh penyakit kulit karena dapat membantu memperbaiki fungsi pelindung kulit dan mengurangi peradangan lokal. Sementara itu, pada gatal yang disebabkan oleh gangguan saraf, penyakit organ dalam, kondisi psikologis, atau kombinasi beberapa penyebab, penanganan utama diarahkan pada penyebab yang mendasarinya. Produk topikal dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk membantu meredakan keluhan6,9.
1. Pilihan awal untuk gatal akibat penyakit kulit (dermatologis):
- Pelembap berbasis petrolatum atau emolien.
- Losion kalamin.
- Kortikosteroid topikal, terutama untuk gatal yang berkaitan dengan peradangan kulit dan digunakan sesuai diagnosis serta anjuran tenaga kesehatan.
2. Pilihan untuk gatal neuropatik (gangguan saraf):
Beberapa agen topikal, seperti mentol, pramoxine, atau lidokain, dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala pada kondisi tertentu. Penanganan tetap perlu disesuaikan dengan penyebab gangguan saraf yang mendasarinya.
3. Penanganan gatal sistemik (akibat penyakit organ dalam):
Penanganan utama ditujukan pada penyakit atau kondisi yang mendasarinya. Pelembap dapat digunakan sebagai terapi suportif, terutama jika kulit mengalami kekeringan.
4. Penanganan gatal psikogenik (berkaitan dengan kondisi psikologis):
Tidak terdapat terapi topikal spesifik yang menjadi terapi utama untuk pruritus psikogenik. Penanganan terutama diarahkan pada kondisi psikologis yang mendasari dan dapat melibatkan terapi psikologis atau farmakoterapi sesuai evaluasi klinis.
Hal yang Perlu Dihindari Saat Kulit Gatal
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat mengatasi gatal antara lain:
- Menggaruk kulit secara berlebihan
- Menggunakan obat oles tanpa mengetahui penyebab gatal
- Mengabaikan penggunaan pelembap pada kulit kering
- Menunda pemeriksaan medis meskipun keluhan berlangsung lama atau semakin berat.
Selain memperburuk peradangan dan merusak lapisan pelindung kulit, kebiasaan tersebut dapat memperpanjang siklus gatal dan menghambat keberhasilan pengobatan. Oleh karena itu, penanganan gatal perlu dilakukan secara tepat dan sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Dengan pendekatan yang sesuai, gejala dapat dikendalikan lebih optimal, risiko komplikasi dapat dikurangi, dan kualitas hidup penderita dapat tetap terjaga9.
Kapan Gatal Perlu Diperiksakan ke Dokter?
Sebagian besar gatal ringan dapat membaik dengan perawatan mandiri. Namun, gatal perlu diperiksakan ke dokter apabila berlangsung terus-menerus, berulang, semakin berat, mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, tidak membaik dengan perawatan awal, atau disertai kelainan kulit maupun gejala lain yang dapat mengarah pada kondisi medis tertentu. Berikut tanda-tanda gatal yang perlu diperiksakan ke dokter, yaitu8:
- Gatal berlangsung selama 6 minggu atau lebih (gatal kronis).
- Gatal mengganggu tidur, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari.
- Gatal tidak membaik meskipun telah menggunakan pelembap atau perawatan awal yang sesuai.
- Gatal disertai ruam berat, luka akibat garukan, atau tanda infeksi pada kulit.
- Gatal disertai gejala lain, seperti penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kelainan hati, gangguan ginjal, atau keluhan sistemik lainnya.
Kondisi ini perlu dievaluasi karena gatal dapat menjadi tanda penyakit kulit, gangguan saraf, penyakit organ dalam, infeksi, maupun kondisi medis lainnya. Jadi, jangan ragu untuk mengonsultasikan segala keluhanmu ya, Tanyazen!
Artikel ini ditinjau kembali oleh :
apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm
Referensi
- National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. (n.d.). Health lesson: Learning about skin. National Institutes of Health. Retrieved October 12, 2026, from https://www.niams.nih.gov/health-topics/health-lesson-learning-about-skin
- Kabashima, K., Honda, T., Ginhoux, F., & Egawa, G. (2019). The immunological anatomy of the skin. Nature Reviews Immunology, 19(1), 19–30. https://doi.org/10.1038/s41577-018-0084-5
- Garcovich, S., Maurelli, M., Gisondi, P., Peris, K., Yosipovitch, G., & Girolomoni, G. (2021). Pruritus as a Distinctive Feature of Type 2 Inflammation. Vaccines, 9(3), 303. https://doi.org/10.3390/vaccines9030303
- Wilson, S. R., Gerhold, K. A., Bifolck-Fisher, A., Liu, Q., Patel, K. N., Dong, X., & Bautista, D. M. (2013). The ion channel TRPA1 is required for chronic itch. Journal of Neuroscience, 33(22), 9283–9294. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.5318-12.2013
- National Institutes of Health. (2025, February 25). Scratching and allergic skin inflammation. NIH Research Matters. https://www.nih.gov/news-events/nih-research-matters/scratching-allergic-skin-inflammation
- Coscarella, G., Edwards, E., & Yosipovitch, G. (2026). Basic mechanisms of itch and advances in clinical management. Annals of Allergy, Asthma & Immunology, 136(2), 131-140. https://doi.org/10.1016/j.anai.2025.09.014
- MacIntyre, D., & Lio, P. (2026). Calming the itch: Evidence-based non-pharmacologic interventions for chronic pruritus. Journal of Integrative Dermatology. https://doi.org/10.64550/joid.x3nm1829.
- Butler, D. C., Berger, T., Elmariah, S., Kim, B., Chisolm, S., Kwatra, S. G., Mollanazar, N., & Yosipovitch, G. (2024). Chronic pruritus: A review. JAMA, 331(24), 2114–2124. https://doi.org/10.1001/jama.2024.4899
- MacIntyre, D., & Lio, P. (2026). Calming the itch: Evidence-based non-pharmacologic interventions for chronic pruritus. Journal of Integrative Dermatology. https://doi.org/10.64550/joid.x3nm1829