Masuk Angin Bukan Mitos? Ini Penjelasan Medis dan Cara Meredakannya!

EL
Ellen Nathania
0

Masuk angin bukan merupakan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari anak, orang dewasa, hingga lansia dapat mengalami serangkaian gejala yang lebih sering disebut sebagai masuk angin masuk angin. Kondisi seperti cuaca dingin, pakaian lembab, kurang istirahat, dan pola makan tidak teratur kerap dipercaya menjadi penyebab masuk angin. Akan tetapi, benarkah gejala masuk angin yang timbul disebabkan oleh angin yang terperangkap dalam tubuh? Lalu, bagaimana pandangan medis mengenai masuk angin?

Dalam budaya masyarakat Jawa, masuk angin dipercaya terjadi ketika angin masuk melalui lubang-lubang tubuh dan terperangkap di dalam tubuh. Kondisi tersebut dipercaya menimbulkan gejala seperti mual, batuk, flu, nyeri ulu hati, dan pusing. Untuk mengatasinya, angin yang dianggap terperangkap di dalam tubuh harus dikeluarkan melalui sendawa atau buang angin. Secara tradisional, konsumsi ramuan jamu dan kerokan dipercaya dapat membantu meredakan gejala-gejala masuk angin1,2. 

Dalam dunia medis, masuk angin bukan merupakan sebuah diagnosis medis yang spesifik. Berbagai gejala yang oleh masyarakat disebut sebagai masuk angin dapat berkaitan dengan beberapa kondisi, salah satunya adalah influenza atau yang lebih dikenal sebagai flu2. Influenza merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus influenza yang menyerang saluran pernafasan. Virus ini ditularkan melalui droplet atau percikan cairan yang keluar dari mulut dan saluran pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut3. 

Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi cirus influenza dapat berupa demam, meriang, batuk, hidung berair, sakit kepala, nyeri otot, hingga mual dan muntah. Pada orang yang sehat, influenza umumnya bersifat ringan dan dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari4. Oleh karena itu, penanganan biasanya ditujukan untuk membantu meredakan gejala dan menjaga kondisi tubuh selama proses pemulihan. Beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi keluhan yang sering dikaitkan dengan masuk angin antara lain tanaman herbal, suplemen tertentu, antasida, dan minyak kayu putih. 


Penggunaan Tanaman Herbal

Masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan tanaman herbal sebagai bagian dari pengobatan tradisional karena relatif mudah diperoleh dan digunakan. Beberapa tanaman herbal, seperti jahe merah dan temulawak, dapat menjadi pilihan untuk membantu meredakan keluhan tertentu yang menyertai flu. Jahe merah, misalnya, dapat dikonsumsi dalam bentuk air rebusan untuk meredakan mual, nyeri otot, dan pembengkakan. Selain itu, konsumsi air rebusan jahe juga dapat meningkatkan rasa nyaman setelah untuk meredakan keluhan mual5.

Selain jahe, rimpang temulawak juga dapat menjadi pilihan alami untuk meredakan influenza. Temulawak mengandung senyawa kurkuminoid yang berpotensi sebagai antivirus dan meningkatkan sistem imun untuk melawan infeksi6. Meskipun demikian, penggunaan tanaman herbal tetap perlu dilakukan secara bijak. Herbal tidak selalu dapat menggantikan pengobatan medis, terutama apabila gejala yang dialami cukup berat atau berlangsung dalam waktu lama. 


Suplemen

Selain tanaman herbal, suplemen juga sering digunakan sebagai pelengkap untuk membantu tubuh melawan infeksi. Suplemen seperti vitamin C dan Zinc dapat meningkatkan sistem imun sehingga mempercepat proses pemulihan dan menurunkan keparahan flu. Meski merupakan suplemen yang relatif aman, konsumsi zinc dan vitamin C tetap perlu memperhatikan batas konsumsi harian untuk mencegah timbulnya efek samping7. 


Antasida

Jika keluhan yang muncul seperti kembung dan buang angin, antasida dapat digunakan untuk membantu meredakan masalah pencernaan. Antasida mengandung aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida yang dapat menetralisasi kelebihan asam lambung. Meskipun hanya bekerja secara lokal pada lambung, penggunaan antasida tetap harus sesuai dengan aturan pakainya. Jika keluhan lambung sering berulang atau tidak membaik, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan8. 


Penggunaan Minyak Kayu Putih

Minyak kayu putih secara tradisional telah digunakan untuk meredakan penyakit pada saluran nafas seperti asma dan sinusitis. Minyak kayu putih berasal dari tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi) yang mengandung senyawa aktif Eucalyptol. Senyawa tersebut diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, termasuk aktivitas antiinflamasi dan antimikroba. Minyak kayu putih dapat mencegah pertumbuhan virus pada saluran nafas pada penderita flu. Meski demikian, penggunaan minyak kayu putih tidak dapat dianggap sebagai pengganti pengobatan utama untuk infeksi influenza9. 

Meskipun tergolong ringan, gejala serupa dengan masuk angin juga perlu diwaspadai khususnya pada lansia dan orang dengan riwayat penyakit jantung. Beberapa keluhan yang tampak seperti masuk angin ternyata dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius. Sebagai contoh, nyeri dada, lemah, pusing, mual, keringat dingin, nyeri yang menjalar, dan sesak atau napas pendek dapat menjadi tanda penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, apabila Anda termasuk ke dalam kelompok berisiko dan mengalami gejala tersebut maka segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan10. 


Artikel direview oleh : apt. Safira Aulia, S.Farm


  1. Tommy Prayoga and Yosef Dedy Pradipto (2014). Masuk Angin in Javanese Healthy Lifestyle: A Qualitative Analysis Using Health and Indigenous Psychology Approaches. Anima: Indonesian Psychological Journal, 29(3), pp.146–154.
  2. ‌Anggoro, F.K. and Jee, B. D (2021). The Substance of Cold: Indonesians” Use of Cold Weather Theory to Explain Everyday Illnesses. [online] Frontiers in psychology. doi:10.3389/fpsyg.2021.734044.
  3. Boktor, S.W. and Hafner, J.W. (2023). Influenza. [online] ncbibooks. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459363/.
  4. CDC (2025). Signs and Symptoms of Flu. [online] Influenza (Flu). Tersedia pada: https://www.cdc.gov/flu/signs-symptoms/index.html.
  5. Laia, Pansakti; Junhar, M. Laia; dan Menisafriani; Giawa. 2023. Pemanfaatan Jahe Merah (Zingiber Officinale Var. Rubrum) dalam Mengatasi Mual, Nyeri Otot, dan Inflamasi Pada Penderita Flu. Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. 2 No 2 
  6. Firmansyah, Moh. et al. 2026. Potential of Instant Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) as an Immunomodulatory Agent against Viral Infections: A Systematic Narrative Review. Indonesian Journal of Science and Pharmacy. Vol 3 Issue 3 
  7. NCCIH. (2026). 5 Tips: Natural Products for the Flu and Colds: What Does the Science Say? [online] Tersedia pada: https://www.nccih.nih.gov/health/tips/tips-natural-products-for-the-flu-and-colds-what-does-the-science-say.
  8. Garg, V., Narang, P. and Taneja, R. (2022). Antacids revisited: review on contemporary facts and relevance for self-management. [online] The Journal of international medical research. doi:10.1177/03000605221086457. 
  9. Sudradjat, S.E. (2020). Minyak Kayu Putih, Obat Alami dengan Banyak Khasiat: Tinjauan Sistematik. Jurnal Kedokteran Meditek, [online] 26(2). doi:10.36452/jkdoktmeditek.v26i2.1843. 
  10. Kemkes.go.id. (2017). Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. [online] Tersedia pada: https://ayosehat.kemkes.go.id/?p=8084.


Komentar (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang artikel ini.