Seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan mengeluhkan bahwa beban kerjanya terlalu tinggi. Ia sering lembur dan begadang hingga larut malam. Di sela-sela lemburnya, ia kerap mengonsumsi kopi dan makanan siap saji. Beberapa hari kemudian, akibat kebiasaan tersebut, ia mulai merasakan gejala berupa nyeri ulu hati, mual, dada terasa panas, dan tenggorokan seperti mengganjal, terutama setelah makan.
Akhirnya, ia memeriksakan diri ke dokter. Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa pasien mengalami kenaikan asam lambung yang dipicu oleh pola hidupnya akhir-akhir ini. Mendengar hal tersebut, ia mulai memperbaiki kebiasaan hidup di tengah kesibukan pekerjaannya. Namun, setelah beberapa waktu sejak pemeriksaan pertama, ia kembali mengeluhkan gejala yang sama.
Dokter pun mulai mencurigai adanya kondisi lain yang mungkin berperan, yaitu anxiety dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara keduanya?
Berkenalan dengan Gastroesophageal Reflux Disease
Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD yaitu penyakit kronis saluran pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang, setidaknya terjadi dua kali dalam seminggu, dimana nantinya dapat merusak lapisan kerongkongan1. Tak seperti namanya yang terlihat bagus, pada sebagian orang GERD justru menimbulkan keluhan yang cukup menyiksa. Penderitanya sering berada dalam dilema: makan dapat memicu gejala, tetapi tidak makan pun tetap menimbulkan ketidaknyamanan.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, GERD dipicu akibat asam lambung yang naik ke kerongkongan, kebiasaan buruk seperti langsung berbaring setelah makan dapat memicu aliran balik dari lambung menuju ke kerongkongan2. Pada dasarnya lambung didesain untuk tahan terhadap asam lambungnya sendiri, namun tidak dengan kerongkongan. Karena jika terkena asam lambung, maka kerongkongan akan mengalami iritasi bahkan sampai luka3. Inilah yang menyebabkan seorang penderita GERD selalu merasakan keadaan seolah makanan terasa tersangkut di kerongkongan.
Tapi, bagaimana jika penderita GERD tidak makan? Kondisi ini justru semakin salah, karena secara teori, lambung akan kosong setiap 2 jam sekali. Saat dalam keadaan kosong lambung justru akan meningkatkan jumlah produksi asam lambungnya4. Jika tidak segera terisi makanan, maka lama kelamaan asam lambung akan mengiritasi dinding lambung yang akan memicu rasa kembung, mual, pusing hingga muntah dan begitulah keadaan yang dirasakan para penderita GERD.
Hubungan Kecemasan Berlebih (Anxiety) dengan GERD
Faktor lain yang sering memicu serangan GERD adalah cemas atau takut berlebihan (Anxiety). Kecemasan membuat otot sfingter esofagus melemah, mengganggu pergerakan kerongkongan dan meningkatkan produksi asam lambung secara langsung. Hal ini membuat potensi asam lambung naik hingga ke kerongkongan dan menyebabkan GERD.
Apakah Anxiety-GERD dapat sembuh?
GERD yang ditimbulkan oleh Anxiety nyatanya dapat dikendalikan, salah satu caranya adalah dengan mengendalikan mental dan pikiran melalui Terapi Kognitif-perilaku Mindfulness yang dapat membantu menurunkan gejala kecemasan pada pasien GERD.
Pada pendekatan Terapi Kognitif-perilaku Mindfulness dijelaskan bahwa perilaku dipengaruhi oleh proses berpikir individu5. Melalui terapi tersebut, pasien diajak untuk menyadari, mengenali dan mengevaluasi pola pikir negatif yang muncul. Seiring berjalannya waktu, pasien mulai memahami bahwa pikiran negatif tersebut merupakan pemicu kecemasan yang dialami. Hal ini menunjukan, bahwa penerapan Terapi Kognitif-perilaku Mindfulness dapat membantu seseorang dalam mengelola pikiran dan emosi diri, sehingga keluhan GERD dapat dikendalikan secara bertahap6.
Artikel ini direview oleh :
apt. Syifa Amelia Putri, S.Farm
Sumber Pustaka :
- Mile, M. A., Suranata, F. M., & Rantiasa, I. M. (2020). Gambaran stres dan pola makan pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD) di wilayah kerja Puskesmas. Jurnal Kesehatan Amanah, 4(1), 13-19.
- Dewantika, P., Lubis, A. P., & Putri, P. (2022). Penerapan Teknik Forward Chaining dan Certainty Factor Untuk Mendeteksi Penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Build. Informatics, Technol. Sci, 3(4), 696-703.
- Ashri, N. A. (2023). Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Mahasiswa Sarjana Farmasi Tingkat Akhir Mengenai Gerd di Universitas Bhakti Kenca (Doctoral dissertation, Universitas Bhakti Kencana).
- Iryani, D. (2014). Faktor Resiko Terjadinya Dispepsia Pada Pasien Yang Berobat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh Tahun 2013 (Doctoral dissertation, Universitas Serambi Mekkah).
- Clark, D. A., & Beck, A. T. (2010). Cognitive theory and therapy of anxiety and depression: convergence with neurobiological findings. Trends in Cognitive Sciences, 14(9), 418–424. https://doi.org/10.1016/j.tics.2010.06.007
- Fathurrahman, A. A. (2023). Terapi Kognitif-Perilaku Mindfulness Untuk Menurunkan Kecemasan Kesehatan Pada Pasien Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).